Berlangganan postingan terbaru via email

Masukkan alamat email antum:

Delivered by FeedBurner


Most Populer

Minggu, 05 Juni 2011

The First Mean The Best

“Siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang pertama memberi contoh perilaku yang jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim)
Suatu ketika datanglah rombongan orang tak beralas kaki, berkemul kain wol yang dilubangi pada bagian kepala dan bersenjatakan pedang. Mereka adalah orang-orang dari suku Mudhar. Melihat kemiskinan yang mereka derita, berubahlah wajah Rasulullah. Beliau kemudian masuk rumah dan segera keluar lagi, kemudian menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan dan iqamah. Sesudah menyelesaikan shalatnya, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, daripadanya Allah meniptakan istri, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain, serta peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.” Beliau juga menyampaikan firman Allah yang artinya: “Wahai orang-orang yang berian, bertakwalah kamu semua kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatika apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Usai menyelesaikan khotbahnya ada seorang yang bersedekah dengan sebagian dinarnya, dirham, pakaian, satu gantang gandum dan dengan satu gantang kormanya, sehingga Jarir mengatakan; “Bahkan tidak ada yang ingin ketinggalan, sekalipun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma.”

Setelah itu datanglah seorang sahabat Anshar dengan pundi-pundi besar, hampir saja ia tidak sanggup mengangkatnya. Lalu para sahabat lain pun mengikuti langkahnya. Maka cerahlah wajah Rasulullah dan bersabda seperti pada hadits yang saya tulis pada awal perbincangan kita kali ini.

Kembali kita memperoleh pelajaran tentang pentingnya untuk beramal sesegera mungkin. Kalau bisa menjadi yang pertama, sungguh rugi sekedar menjadi yang kedua, ketiga atau lebih telat lagi. Apa lagi sampai meninggalkannya. Maka meski hanya dengan setengah biji korma, seorang sahabat nabi akan tetap bersedakah dengan itu. Sepele kalau melihat dari segi jumlah. Tapi bila kita lihat semangatnya, maka hal itu luar biasa. Maka nilai sesungguhnya tak bisa kita pandang dari jumlah tersebut.

Yang pertama memang tak selalu menjadi yang terbaik. Akan tetapi hukum the first mean the best berlaku dalam banyak hal. Saat ini banyak sekali perusahaan yang memproduksi air mineral, akan tetapi produk mana yang paling terkenal dan menguasai pasaran? Engkau tahu sendiri jawabannya.

Saat ini juga beredar banyak buku dengan cover yang mirip, menggunakan judul dengan pengungalangan kata dan diakhiri kata CINTA. Engkau pasti juga tahu bahwa Ayat-Ayat Cinta telah menginspirasi orang dalam menerbitkan karya-karya me too (aku juga) tersebut. Dan bisa dilihat, karya mana paling laris dan legendaris.
Sang pionir seringkali menjadi brand besar yang menelan nama produk-produk sejenis. Hermawan Kartajaya mencontohkan bahwa di Indonesia ada Honda Merek Yamaha, Aqua merek Ades, Sanyo merek Hitachi atau Kodak merek Canon. Prodak-prodak yang disebut pertama telah menjadi nama generik bagi produk-produk sejenis. Honda adalah nama generik dari motor bebek, Aqua adalah nama generic dari ‘air mineral’ dan seterusnya. Secara umum, bila dapat menjangkau, pilihan masyarakat tetap pada produk-produk pionir yang disebut pertama, meskipun dalam hal ini menjadi nama generik bukan suatu hal yang menguntungkan.
Banyak lagi contoh lain. Yang pertama unggul dalam suatu hal, dialah yang akan dicari dan dikejar masyarakat.

Mulai sekarang, tinggalkan kebiasaan menunda dan mengabaikan kebaikan, meski engkau menganggapnya sepele, karena yang sepele itu bisa jadi sangat besar nilainya di sisi Allah. Engkau tentu telah sering mendengar, ada orang yang masuk surga hanya karena menyingkirkan duri di jalan, atau memberi minum anjing yang kehausan. Sebaliknya, ada yang celaka hanya karena abai terhadap hal-hal sepele.

Jadilah yang pertama berbuat kebaikan, insya Allah kau pula yang paling cepat mendapatkan pahala dan benefit-nya. Ketika shalat jum’at misalnya, jangan berlambat-lambat hingga kau telat. Sudah begitu kamu duduk bersandar di tembok belakang, atau justru di pilar serambi. Jangan, karena dalam kondisi ceteris paribus, yang pertama dan yang terdepan selalulah yang terbaik.

Ironi, banyak orang seringkali datang terlebih dahulu, tapi duduk paling belakang, atau ngobrol justru mengobrol di serambi Masjid. Bila ada orang lain yang mengajak masuk, dia pun hanya mempersilahkan dan tak beranjak. Apakah bila di akhirat nanti, dia senang berada di surga tapi hanya di depan gerbangnya semata. Bila ada yang mengajak masuk ke surga, dia pun bilang; “Silahkan, mangga, saya mah di sini saja,” atau “Silahkan, silahkan cari tempat paling baik, saya lebih suka di emperan saja.”

Di sisi lain, bila menjadi yang dalam kebaikan, insya Allah akan banyak yang mengikuti. Bila itu terjadi, maka semakin banyak orang akan berada dalam kebaikan. Suatu perbuatan yang mulanya hanya dia lakukan sendiri, akan menjadi sunnah-hasanah (kebiasaan baik) yang dilakukan banyak orang. Dalam hal ini, pahalanya pun akan berlipat, karena ia jua mendapatkan cipratan pahalan dari orang-orang yang mengikutinya. Ibarat MLM, orang yang ada dalam posisi Top Line pasti berpendapatan paling besar, karena setiap down line memberi kontribusi.

Bahkan dalam hal sunnah-hasanah, orang yang pertama melakukan akan mendapatkan penuh pahalah-pahala dari down line-nya, tanpa dikurangi sedikit pun. Sebagaimana Rasulullah pun bersabda; “Barangsiapa yang menetapkan sunnah-hasanah lalu ia diamalkan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah)

Tapi hati-hati, karena bila sebaliknya, orang yang memulai sunnah-sayyi’ah (kebiasaan buruk) akan pula mendapat lemparan dosa-dosa sama persis seperti dosa-dosa yang diperbuat masing-masing down line-nya. Rasulullah pun melanjutkan sabdanya; “Dan barang siapa yang menetapkan dalam Islam satu sunnah-sayyi’ah, lalu ada yang mengamalkannya, maka ia memperoleh dosa seperti yang mengerjakannya tersebut tanpa disusut sedikit pun.”

Dalam kesempatan lain, Rasulullah juga pernah bersabda: “Tiap-tiap jiwa yang terbunuh dengan penganiayaan, maka putra Adam yang pertama (Qabil), mendapat bagian dari dosa penumpahan darah, karena dialah orang pertama yang melakukan pembunuhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita telah mendengar ribuan kasus pembunuhan, sampai tingkat paling sadis sekalipun, bahkan hanya karena hal-hal temeh. Hanya karena berrebut uang receh, nyawa orang bisa melayang. Di koran, di televisi, berita-berita semacam itu menjadi tak asing lagi. Sungguh, sebagian besar tak ada sangkut pautnya sedikit pun dengan si Qabil anak Adam, kecuali bahwa Qabil-lah yang pertama melakukan pembunuhan. Itu pun membuatnya harus menanggung beban dosa dari sekian banyak orang yang mengikuti jejak sesatnya. Na’udzubillah, tsumma na’udzubillah.

Insya Allah, kita semua akan terus berusaha untuk menghindari perbuatan tercela, apa lagi menjadi yang pertama berbuat. Sebaliknya, kita berazam untuk sepenuh jiwa raga menjadi yang pertama mengupayakan berbagai kebaikan. Kita berusaha untuk fastabiqul khairat. Tak sekedar kebaikan (al-khairan), tapi kebaikan yang banyak dan berkesinambungan (al-khairat).

Baik kawan, bersungguh-sungguhlah. Jadilah yang pertama dalam kebaikan, jadilah yang pertama menemukan ide-ide cemerlang, jadilah yang pertama take action, lalu jadilah yang pertama menjadi orang sukses!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar